Author Archive
Ngintip Sejarah Perjalanan Teknologi Pendidikan
Teknologi Pendidikan berkembang searah dengan perkembangan ilpmu pengetahuan, teori dalam bidang pendidikan, temuan teknologi baru dan kondisi saat itu. Berikut saya ingin gambarkan perkembangan, berikut gerakan yang terjadi, pengaruh teori dan ilmu pengetahuan dan lain sebagainya.
Ini adalah contoh video, walaupun tidak sepenuhnya merepresentasikan apa yg saya tulis ini.
1905 – 1914
Adalah masa dimana tekah terjadi semacam gerakan visual instruction baik sebagai komplemen maupun komponen utama pembelajaran. Ditandai dengan adanya School Museum di St Lois Amerika Serikat. Pada masa ini teknologi pembelajaran lebih banyak dipengaruhi oleh teori belajar behaviorisme. Beberapa media visual yang beredar saat itu diantaranya adalah film, slide, media cetak, gambar, dan lain-lain.
1914 – 1930-an
Anda mungkin tidak percaya bahwa kemenangan Perang Dunia I dan II disebabkan oleh pengaruh teknologi pendidikan. 1914 – 1930an adalah masa Perang Dunia I (PD I). Saat itu adalah masa terjadinya semacam gerakan audio-visual. Disamping teknologi visual seperti diatas pada maasa ini sudah mulai muncul teknologi audio dan audio visual. radio mendominasi kehidupan masa ini dan digunakan untuk sarana informasi dan edukasi disamping hiburan tentunya. Walaupun pada masa ini radio tidak memberikan dampak besar dalam konteks pendidikan. mulai saat ini muncul istilah perkuliahan, professor associate, dan sekolah-sekolah serta kampus mulai merebak di kota-kota besar.
1930 – 1950
Adalah masa Perang Dunia II. Lagi-lagi teknologi pendidikan berperan dalam masa ini. Masa ini dikenal dengan gerakan pelatihan sebagai sistem. Televisi berpengaruh dalam kehidupan masa ini, termasuk penggunaannya untuk pendidikan disamping, overhead transparency/projector. Teori Kerucut Pengalaman Edgar Dale muncul pada masa ini, dan sampai sekarang kita pakai sebagai acuan dalam pemilihan media pembelajaran. Mulai saat ini, dipercaya bahwa media audio-vosual dapat membantu mengkonkritkan belajar.
1950 – 1970
Adalah masa jayanya Televisi Pendidikan, khususnya sekitar tahun 1960-an. Saat ini, teori komunikasi (sender – channel – receiver) sangat berpengaruh dalam teknologi pendidikan. Disamping itu teori pemrosesan informasi berpengaruh pada masa ini, dan mulai dikembangkan apa yang disebut programmed instruction (Skinnersbg tokohnya).
sorry belum selesai ntar nyambung lagiiiiiiiii
5 Kunci Meramu Blended Learning secara Efektif

Manusia adalah makhluk yang berbeda, kodratnya demikian. Cara belajarnya berbeda pula. Dipercaya bahawa manusia belajar dengan baik melalui berbagai modalitas. Itulah sebabnya, dalam proses pembelajaran, dari dulu sampai sekarang selalu “blended”. artinya diramu sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan dengan mengkombinasikan berbagai teori, strategi, metode dan media yang relevan. Dalam konteks saat ini, blended learning bertambah luas lingkupnya tidak hanya “memb-blending” metode dan media dalam konteks pembelajaran konvensional saja tapi memngkombinasikannya dengan pola pembelajaran berbasis teknologi informasi atau dikenal dengan istilah e-learning (baik secara online maupun offline, ini istilah saya).
Jared M. Carmen, seorang Preseident Aglint Learning, dalam makalahnya byang pernah saya baca menyebutkan lima kunci sebagai guidance bagi kitra dalam meramu resep yang tepat untuk blended learning yang akan kita lakukan. Apa sajakah gerangan? Mari kita lihat atu atau!
Kunci #1: Live Event
Pembelajaran langsung atau tatap muka (instructor-led instruction) secara sinkronous dalam waktu dan tempat yang sama (classroom) ataupun waktu sama tapi tempat berbeda (seperti virtual classroom). Bagi beberapa orang tertentu, pola pembelajaran langsung seperti ini masih menjadi pola utama. Namun demikian, pola pembelajaran langsung inipun perlu didesain sedemikian rupa untuk mencapai tujuan sesuai kebutuhan. Pola ini, juga bisa saja mengkombinasikan teori behaviorisme, kognitivism dan konstructivism sehingga terjadi pembelajaran yang bermakna.
Kunci #2: Self-Paced Learning
Yaitu mengkombinasikan dengan pembelajaran mandiri (self-paced learning) yang memungkinkan peserta belajar belajar kapan saja, dimana saja dengan menggunakan berbagai konten (bahan belajar) yang dirancang khusus untuk belajar mandiri baik yang bersifat text-based maupun multimedia-based (video, animasi, simulasi, gambar, audio, atau kombinasi dari kesemuanya). Bahan belajar tersebut, dalam konteks saat ini dapat didelivered secara online (via web maupun via mobile dovice dalam bentuk: streaming audio, streaming video, e-book, dll) maupun offline (dalam bentuk CD, cetak, dll).
Kunci #3: Collaboration
Mengkombinasikan kolaborasi, baik kolaborasi pengajar, maupun kolaborasi antar peserta belajar yang kedua-duanya bisa lintas sekolah/kampus. Dengan demikian, perancang blended learning harus meramu bentuk-bentuk kolaborasi, baik kolaborasi anatar teman sejawat atau kolaborasi antar peserta belajar dan pengajar melalui tool-tool komunikasi yang memungkinkan seperti chatroom, forum diskusi, email, website/webblog, listserv, mobile phone. Tentu saja kolaborasi diarahkan untuk terjadinya konstruksi pengetahuan dan keterampilan melalui proses sosial atau interaksi sosial dengan orang lain, bisa untuk pendalaman materi, problem solving, project-based learning, dll.
Kunci #4: Assessment
Tentu saja, dalam proses pembelajaran jangan lupakan cara untuk mengukur keberhasilan belajar (teknik assessment). Dalam blended learning, perancang harus mampu meramu kombinasi jenis assessmen baik yang bersifat tes maupun non-tes, atau tes yang lebih bersifat otentik (authentic assessment/portfolio) dalam bentuk project, produk dll. Disamping itu, juga pelru mempertimbangkan ramuan antara bentuk-bentuk assessmen online dan assessmen offline. Sehingga memberikan kemudahan dan fleksibilitas peserta belajar mengikuti atau melakukan assessmen tersebut.
Kunci #5: Performance Support Materials
Ini bagian yang juga jangan sampai terlupakan. Jika kita ingin mengkombinasikan antara pembelajaran tatap muka dalam kelas dan tatapmuka virtual, patika sumber daya untuk mendukung hal tersebut siap atau tidak, ada atau tidak. Bahan belajar disiapkan dalam bentuk digital, apakah bahan belajar tersebut dapat diakses oleh peserta belajar baik secara offline (dalam bentuk CD, MP3, DVD, dll) maupun secara online (via website resemi tertentu). Atau, jika pembelajaran online dibantu dengan suatu Learning/Content Management System (LCMS), pastikan juga bahwa aplikasi sistem ini telah terinstal dengan baik, mudah diakses, dan lain sebagainya.
Terima kasih, Semoga bermanfaat.
SELAMAT BERDJOEANG!!!
Sumber:
Jared A. Carman, (2005), “BLENDED LEARNING DESIGN: FIVE KEY INGREDIENTS”, http://www.agilantlearning.com/pdf/Blended Learning Design.pdf diunduh, 30 Agustus 2010.
Learning Object in Action
Learning Object merupakan salah satu komponen e-learning yang sangat penting. Tentu Anda semua ingi tahu pakah gerangan binatangnya learning objct itu? Bersyukur Association of Instructional Technology (AIT) dan Association of Education and Communication Technology (AECT) mengeluarkan dokumen yang bersifat Open Public Licence (OPL). Dokumen yang bersifat OPL ini artinya dapat disebarluaskan secara elektronik kepada siapa saja dengan catatan bukan untuk komersil. Dokumen ini tertuang dalam situs online berjudul ‘The Instuctional Use of Learning Object’
Setelah sebelumnya membahas definisi larning object dan Learning Object dalam Perspektif Konstruktifistik, sekarang saya ingin mengajak Anda melihat lebih jauh penerapannya di lapangan. Berikut, beberapa artikel yang ditulis oleh beberapa pakar tentang hal tersebut:
- Battle stories from the field: Wisconsin online resource center learning objects project
- A university-wide system for creating, capturing, and delivering learning objects
- Collaboratively filtering learning objects
- Knowledge objects and mental models
- The future of learning objects
Pasti Anda akan sedikit puas, setelah mendonlot dan mempelajari, tentunya!
Sumber:
AIT/AECT, “<a href=”http://www.reusability.org/read/”>Instructional Use of Learning Object: Online Version</a>” (Open Public Licence) maintained by David A. Wiley at http://www.reusability.org/read/ diunduh oleh Uwes A. Chaeruman pada 23 Agustus 2010
SELAMAT BERDJOEANG!
Learning Object dan Pembelajaran Konstruktifistik
Learning Object merupakan salah satu komponen e-learning yang sangat penting. Tentu Anda semua ingi tahu pakah gerangan binatangnya learning objct itu? Bersyukur Association of Instructional Technology (AIT) dan Association of Education and Communication Technology (AECT) mengeluarkan dokumen yang bersifat Open Public Licence (OPL). Dokumen yang bersifat OPL ini artinya dapat disebarluaskan secara elektronik kepada siapa saja dengan catatan bukan untuk komersil. Dokumen ini tertuang dalam situs online berjudul ‘The Instuctional Use of Learning Object’
Setelah sebelumnya membahas definisi larning object, sekarang saya ingin mengajak Anda mengkaji knspe elanring object ini dilihat dari sudut pandang konstruktifism. Berikut, tiga artikel yang ditulis oleh beberapa pakar tentang hal tersebut:
- Learning object systems as constructivist learning environments: Related assumptions, theories, and applications
- Designing resource-based learning and performance support systems
- Learning objects to support inquiry-based online learning
Pasti Anda akan tertarik. Silakan donlot dan nikmati isinya.
Sumber:
AIT/AECT, “Instructional Use of Learning Object: Online Version” (Open Public Licence) maintained by David A. Wiley at http://www.reusability.org/read/ diunduh oleh Uwes A. Chaeruman pada 23 Agustus 2010
SELAMAT BERDJOEANG!
Learning Object: Apakah Gerangan
Learning Object merupakan salah satu komponen e-learning yang sangat penting. Tentu Anda semua ingi tahu pakah gerangan binatangnya learning objct itu? Bersyukur Association of Instructional Technology (AIT) dan Association of Education and Communication Technology (AECT) mengeluarkan dokumen yang bersifat Open Public Licence (OPL). Dokumen yang bersifat OPL ini artinya dapat disebarluaskan secara elektronik kepada siapa saja dengan catatan bukan untuk komersil. Dokumen ini tertuang dalam situs online berjudul ‘The Instuctional Use of Learning Object’
Pertama kita coba lihat dan pelajari tentang definisi leanring object itu sendiri. Semuanya ada dalam dua artikel dibawah ini:
- Connecting learning objects to instructional design theory: A definition, a metaphor, and a taxonomy
- The nature and origin of instructional objects
Silakan Anda donlot dan baca. Mudah-mudahan membantu, khususnya bagi Anda yang sedang melakukan penelitian dalam hal e-learning.
Sumber:
AIT/AECT, “Instructional Use of Learning Object: Online Version” (Open Public Licence) maintained by David A. Wiley at http://www.reusability.org/read/ diunduh oleh Uwes A. Chaeruman pada 23 Agustus 2010
SELAMAT BERDJOEANG!
Contoh Silabus Blended Learning
Blended Learning secara sederhana adalah pembelajaran yang mengkombinasikan antara tatap muka dengan online. Dalam konteks perkuliahan adalah kombinasi antara kuliah tatap muka dengan online learning. Bagaimana blended learning terjadi? sebenarnya, apakah seorang dosen menerapkan blended leanring atau tidak dapat dilihat dari silabusnya.
Penerapan blended learning menurut saya tidak terjadi begitu saja. Tapi, kita harus mempertimbangkan karakteristik tujuan pembelajaran yang ingin kita capai, aktifitas pembelajaran yang relevan serta memilih dan menentukan aktifitas mana yang relevan dengan konvensional dan aktifitas mana yang relevan untuk online learning.
Berikut adalah pengalaman saya dalam menerapkan blended learning. Secara umum, 1 SKS adalah 3 jam perkuliahan dalam satu minggu. Itupun terdiri dari sekian menit (60′) untuk tatap muka, 50′ untuk tugas terstruktur dan 50′ untuk tugas mandiri, kalao gak salah begitu. Nah mengacu pada sistem SKS tersebut, maka porsi blended learning kita tujukan untuk tugas terstruktur dan mandiri. Tidak hanya itu, kita juga harus memilah dan memilih tujuan pembelajaran dan aktifitas perkuliahan seperti apa saja yang relevan dilakukan melalui online learning. Dengan demikian, kuliah tatap muka (60′) dalam seminggu itu bisa lebih difokuskan untuk pendalaman materi yang lebih bersifat, diskusi mendalam, studi kasus dan problem solving, hal-hal lain dilakukan secara online.
Sebaiknya saya tidak berteori banyak disini. Mungkin alangkah baiknya saya berikan saja contoh silabus blended learning yang digunakan untuk salah satu mata kuliah yang saya ampu. Mudah-mudahan pembaca dapat memberikan input, kritik dan saran. Karena, terus terang saya sedang menggali dan mencoba mencari model yang tepat untuk blended learning ini. Silakan lihat silabus saya dengan cara mendonlot file berikut:SILABUS Organisasi Belajar – blended learning version

Merancang Silabus yang Berorientasi Pemelajar
Beberapa bulan lalu sy diminta cuap-cuap tentang merancang silabus yang baik di kampus PPs UNTIRTA, Banten. Tanggal 3 Agustus ini dimintapun oleh AKOMM TVRi Kemang Pratama, Bekasi, berbicara hal yang sama. Akhirnya, tajuk ini saya beri nama Menyusun Silabus yang berorientasi pada Pemelajar (student-centered syllabus).
Apakah Silabus silabus itu sebenarnya? Secara harfiah, silabus mengandung arti “label” atau “daftar” menurut bahasa Yunani. Namun, secara umum menurut American Heritage Dictionary, silabus diartikan sebagai outline of the course of study atau dalam konteks kampus dapat dibilang sebagai outline perkuliahan.
Sebenarnya, makna silabus lebih dari sekedar itu. Coba kita lihat fungsinya:
- sebagai course-planning tool; sarana merencanakan perkuliahan (menentukan tujuan, metode, aktifitas belajar, media, tugas-tugas, ujian, penilaian dan lain-lain).
- sebagai “prospectus”; memberikan gambaran, harapan, tantangan serta alasan pentingnya mempelajar mata kuliah tersebut sesuai dengan konteks kebutuhan di lapangan (khususnya kebutuhan kerja).
- sebagai reference guid; memberikan panduan apa, dan bagaiman, melalui apa, bahan belajarnya apa selama proses perkuliahan.
- sebagai contract; janji/kesepakatan yang harus dipenuhi bersama baik dari sisi dosen maupun mahasiswa. Oleh karena itu, dianjurkan agar sebelum memulai perkuliahan silabus ini ilontarkan kepada mahasiswa, dibahas, didiskusikan bersama sehingga memperoleh kesepakatan bersama.
Kembali ke laptop. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan bagaimana sih silabus yang mencerminkan proses pembelajaran yang berorientasi pada mahasiswa? Untuk mengetahui apakah silabus yang kita buat lebih berorientasi pada siswa atau tidak sebenarnya gampang. Jawab saja beberapa pertanyaan di bawah ini:
Dilihat dari tujuan, strategi pembelajaran (metode, penugasan, alat evaluasi, media) dan lain-lain, apakah mencerminkan posisi:
A. mahasiswa sebagai penonton utama dan dosen sebagai pemain utama? atau
B. mahasiswa sebagi pemain utama dan dosen sebagai fasilitator perkuliahan?
Jika jawabannya adalah B, maka silabus tersebut adalah silabus yang berorientasi pada mahasiswa. Artinya, pembelajaran konstruktifistik yang menonjol disitu, dimana ciri pembelajaran yang lebih knstruktifistik diantaranya adalah melibatkan mahasiswa aktif, reflektif, kolaboratif (dalam bentuk proyek, kerja kelompok), evolving, constructed (membangun pengetahuan, bukan dicekoki pengetahuan) dan inquiry-based.
Kalau megacu pada taksonomi pengetahuan Bloom yang disempurnakan oleh Crathwol kemudian digabungkan dengan dimensi pengetahuan menurut Merril dan Gagne, maka silabus yang berorientasi pada mahasiswa (student-centered syllabus) akan cenderung menggunakan tujuan pembelajaran yang mengandung unsur sebagai berikut:
- menerapkan – konsep (mencoba/bereksperimen, melakukan)
- menerapkan – metakognitif (membangun, membuat)
- menganalisis – konsep (menjelaskan, menyimpulkan, dll)
- menciptakan – konsep (merencanakan, menyusun strategi)
- menciptakan – metakognitif (mengaktulaisasikan rencana)
Atau mengacu pada taksonomi pengetahuan Bloom, lebih menekankan pada penggunaan kata kerja operasional yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti:
- applying – menerapkan, mempraktekkan, mendemonstrasikan
- analyzing – mengaktegorisasikan, membandingkan
- evaluating – mengkritik, menilai, mengevaluasi, memilih, memutuskan
- creating – menyusun, menciptakan, membuat, merencanakan, mreancang, memodifikasi
Atau, kalau menurut taksonomi Robert Gagne, lebih menekankan pada kata kerja operasional sebagai berikut:
- define concept; seperti mendiskusikan, mengidentifikasi,
- applying rule and principles; seperti menerapkan, mengorganisasikan, mendiskusikan,
- problem solving, seperti menganalisis, mensiintesis, membuat alternatif, dll
Dari sisi tugas-tugas yang diberikan juga dapat kita lihat apakah silabus tersebut berorientasi pada mahasiswa atau tidak. Ciri silabus yang berorientasi pada mahasiswa dilihat dari sisi tugas yang diberikan adalah sebagai berikut:
- information handling; yaitu tugas-tugas yang berkaitan dengan proses mengumpulkan, mengurutkan, mengklaisfikasikan, menganalisis, dll.
- adaptif; yaitu tugas-tugas yang berkaitan dengan upaya mencontohkan, mensimulasikan, mendemonstrasikan, dll
- communicative; yaitu tgas-tugas yang menuntut mahasiswa untuk mendiskusikan, menyampaikan dan mempertahankan ide, memperdebatkan, dll
- productive; yaitu tugas-tugas yang menuntut mahasiswa menciptakan, menghasilkan, menulis, menggambar, menyusun, emncampur, mengkombinasikan, dll.
- experiential; yaitu tugas-tugas yang menuntut mahasiswa mengalami, mempertunjukkan, mengamati. meneliti, melakukan, menerapkan, mencoba, mencicipi, merasakan, dll
Kalau tugas-tugas yang diberikan masih bersifata asmilatif, seperti mendengar, melihat, mencatat, meringkas, membaca, maka belum dapat dikatakan sebagai silabus yang berorientasi pada mahasiswa. Jika perlu, dianjurkan agar mahasiswa diberikan kebebasan untuk secara kreatif dan proaktif menentukan sendiri apa yang akan ia pelajari bagaimana memperlajarinya dan dalam bentuk apa tugas yang ia lakukan tersebut ia buktikan.
Dari sisi strategi/metode pembelajaran juga akan kelihatan mana yang berorientasi pada mahasiswa atau bukan. Kita bisa melihat metode apa yang paling dominan. Jika metode yang lebih bersifat expository seperti ceramah, latihan dan praktek (drill and practice),dan bimbingan/tutorial maka jelas masih berisfat berorientasi pada dosen, karena membutuhkan upaya besar dosen sebagai pemain utama disitu. Namun, jika metode yang digunakan lebih bersifat inquiry-based, dimana mahasiswa dituntut untuk lebih menjadi pemeran utama, seperti diskusi, problem solving, colaborative-based learning, project-based learning, simulasi, permainan, dan lain-lain, jelaslah disitu menunjukkan bahwa silabus tersebut lebih berorientasi pada mahasiswa.
Kalau dilihat dari sisi kompnen yang harus ada dalam silabus, kita tidak bisa membedakan apakah itu berorientasi pada dosen atau berorientasi pada mahasiswa. Sebab, komponen silabus pada umumnya sama, meliputi:
- mata kuliahnya apa, beserta jumlah SKS dan kode mata kuliah
- dosennya siapa, beserta alamat atau alat komunikasi (hp, email, dll) yang bisa dihubungi
- deskripsi mata kuliah beserta prasyarat yang dipersyaratkan
- tujuan pembelajaran baik tujuan umum maupun khusus
- literatur, baik yang wajib maupun yang sunnah
- strategi pembelajaran meliputi topik, metode, tugas, latihan, media, evaluasi dan lain-lain baik yang bersifat mandiri maupun terstruktur. sebaiknya juga dijelaskan rasional mengapa hal tersebut harus dipelajari dan mengapa cara/metode yang digunakan harus seperti itu. apalagi kalau dikaitkan dengan konteks kebutuhan di lapangan dimana mata kuliah tersebut diaplikasikan dalam praktek senyatanya.
- sistem penilaian, sebaiknya disepakati bersama
- tata tertib/aturan main, sebaiknya disepakati bersama
- jadwal kuliah,
- ……. dll.
Terima kasih, dulu ah….. semoga bermanfaat. bahan presentasi dapat Anda donlot disini: Merancang Silabus berorientasi Pemelajar
SELAMAT BERDJOEANG!
Metode Pembelajaran dan Pemanfaatan TIK?
Adalah menarik sekali ketika memandu workshop pemanfaatan TIK untuk pembelajaran bagi para kepala sekolah, kemarin di Hotel Griya Astoeti, Cisarua Bogor. Apanya yang menarik? Ketika menyusun action plan pemanfaatan TIK untuk pembelajaran.
Anda, saya atau siapa saja mungkin akan memikirkan hal yang sama. Apakah gerangan? Ketika menyusun action plan, fokus yang terlintas dalam benak adalah fasilitas TIK, jaringan yang dibutuhkan, konten apa aja yang diperlukan, pelatihan apa saja yang diperlukan dan bla-bla-bla lainnya. Apakah salah, tentu sajaa tidak. Semuanya benar. Namun, ada satu hal yang tidak tercermin dalam action plan tersebut, yaitu bagaimana semua itu diimplementasikan dalam proses pembelajaran? Jadi, pikiran kita terfokus pada pengadaan sesuatu yang bersifat fisik dan lupa proses pembelajarannya akan seperti apa dengan menggunakan aneka ragam fasilitas TIK yang diidentifikasi dan diajukan dalam action plan tersebut. Singkat kata so what gitu loh?
Mungkin ini salah kami, sebagai fasilitator yang tidak mengarahkan kesana he he he he …. Tantangan kita sebenarnya adalah bagaimana guru-guru seara kreatif, secara inovatif memanfaatkan TIK untuk proses pembelajaran dalam berbagai bentuk strategi pembelajaran.
Kalau kita ngacu pada model strategi pembelajaran menurut Smaldino, katakanlah maka dalam praktekny, guru melakukan proses pembelajaran menurut dua kategori yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru dan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Keduanya, diintegrasikan atau dipadukan sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Metode pembelajaran yang berorientasi guru adalah presentasi, demonstrasi, tutorial dan drill & practice. Sedangkan metode2 pembelajaran yang berorientasi siswa adalah diskusi, pembelajaran koperatif (seperti project), problem-based learning, simulasi dan permainan.
Nah jika mengacu pada kategori di atas, terkait dengan pemanfaatan TIK, sedianya kita mulai memikirkan secara kreatif:
- metode presentasi dengan menggunakan TIK yang efektif dan efisien serta menarik harus seperti apa? mengajar dengan menggunakan slide presentasi yang baik harusnya seperti apa, baik dari sisi kualitas teknis slide presentasinya itu sendiri maupun proses presentasi dengan menggunakan slide presentasi tersebut (mulai dari cara mengawali/membuka, posisi berdiri, mimik, interaksi yang sebaiknya terjadi, dan lain-lain. Aplikasi TIK yang dapat digunakan untuk hal ini antara lain adalah Open Office, MSOffice (MSPowerpoint), dreamweaver, dan lain-lain dengan mengkombinasikan format media lain didalamnya secara terpadu seperti audio (music, effect), video, animasi, gambar, grafik, dan lain-lain.
- metode tutorial dengan memanfaatkan TIK yang baik, efektif dan menarik seperti apa? Tutorial adalah proses bimbingan yang dilakukan oleh guru secara intensif. Secara tradisional, guru melakukan bimbingan langsung bagi siswa-siswa yang tertinggal dibanding dengan yang lain. Dewasa ini, dengan adanya tool-tool komunikasi seperti chatting, forum komunikasi, mailinglist, bahkan sms dan audio-conference menggunakan handphone sangat memungkinkan (walau masih mahal dari sisi pulsa yang harus dibayarkan). Pemahaman akan fungsi tool-tool ICT, termasuk pemanfaatan tool jejaring sosial (soscial network) untuk pembelajaran, hendaknya ditanamkan pada diri guru. Caranya? Model pembelajaran yang memanfaatkan tool-tool seperti ini harus dicontohkan. Itu cara yang terbaik menurut saya ketimbang secara formal melakukan pelatihan khusus tentang hal ini, walaupun pelatihannya tetap masih dibutuhkan dibarengi dengan contoh konkrit penerapannya dalam situasi senyatanya.
- demonstrasi dengan memanfaatkan TIK seperti apa yang efektif dan menarik? Demonstrasi, masih lebih baik dengan menggunakan obyek sebenarnya. Itu benar! Tapi untuk beberapa hal tertentu, karena keterbatasan tertentu seperti bahaya, waktu, biaya, jarak dan lain sebagainya maka harus didemonstrasikan dengan cara lain. TIK dalam hal ini sangat diperlukan. Contohnya, adalah bagaimana proses bunga mekar, dapat disajikan dengan video (dalam bentuk slow motion tentunya). Gunung api di bawah laut, bisa disajikan melalui video atau animasi, cara kerja otak bisa disajikan dengan animasi, cara kerja helokopter bisa disajikan dengan animasi dan bahkan simulasi, dan lain-lain.
- drill and practice dengan menggunakan TIK seperti apa yang efektif dan menarik? Dewasa ini, bentuk-bentuk soal apapun dengan jawaban apapaun bisa dibuat dengan software tertentu sejauh itu bersifat obyektif (pilihan ganda, benar salah, jawaban singkat), bahkan urutan munculnya secara acak dengan option jawaban acak bisa dibuat. drill and practice bisa disajikan secara online seperti bank soal dan uji kompetensi di edukasi.net, bisa disajikan secara offline dalam bentuk CD-interaktif, atau bahkan bisa dikirim via sms dengan memanfaatkan fasilitas sms-gateway.
- Diskusi dengan memanfaatkan TIK seperti apa yang efektif dan menarik? Tentu saja guru dapat melakukan diskusi langsung secara tatap muka di dalam kelas. Namun, diskusi saat ini bisa memanfaatkan fasilitas konferensi seperti text-based conference via computer alias chatting dengan memanfaatkan messenger tertentu (seperti yahoo messenger), atau memanfaatkan forum diskusi seperti babaflash forum, atau diskusiweb.com. milist juga bisa dijadikan ajang forum diskusi. Nah, tantangan bagi guru adalah bagaimana mebimbing (e-moderation) forum ini agar terarah, menantang dan menarik untuk siswa, mulai dari memunculkan topik diskusi, membuat pertanyaan yang menantang dan argumentable, dan seterusnya.
- cooperative learning dan problem-based learning dengan memanfaatkan TIK seperti apa yang baik, efektif dan menarik? hanya sekedar ide, sebenarnya kita sebagai guru dapat secara kreatif memberikan tugas yang menantang kepada siswa secara kelompok dimana proses pengerjaannya dan produk yang dihasilkan adalah semuanya berbasis TIK. Misal komunikasi antar anggota kelompok bisa dilakukan via sms, email, chatting dll, pencarian ide bisa dilakukan melalui browsing diinternent dengan memanfaatkan teaknik searching yang efektif dan efisien, dan produknya disajikan dalam aneka ragam sajian berbasis TIK yang relevan dengan kemampuan mereka, seperti animasi, gambar, slide presentasi, video atau kombinasi dari semuanya. Atau mungkin produknya tetap suatu proyek tertentu, tapi proses pengerjaannya dilakukan dengan memanfaatkan tool-tool ICt yang relevan seperti tersebut.
- permainan dan simulasi berbasis TIK? yang ini ga perlu ditanya, sangat memungkinkan. Namun, dalam prakteknya tidak mungkin guru membuatnya secara individual, dibutuhkan team khusus.
Model-model pembelajaran dengan menerapkan TIK seperti yang dipertanyakan di atas, hendaknya menjadi renungan kita bersama. Contoh-contoh konkritnya perlu dilakukan, digali lebih jauh, dipraktekkan, dibuktikan, dan disosialisasikan tanpa harus ada (hak cipta apalagi paten) sehingga dapat dimanfaatkan oleh guru lain dan bahkan menjadi inspirasi untuk menghasilkan model yang lebih baik.
Seandainya itu terjadi ya? … he he he betapa indahnya ICT untuk pembelajaran ….
Kembali ke permasalahan awal yang saya ajukan di atas. Kenyataan seperti itu, justeru mengkhawatirkan saya, dan mungkin juga Anda, bahwa ketika ICT masuk ke sekolah, tanpa diimbangi dengan kesadaran dan kemampuan guru dalam konteks pembelajaran yang benar, maka sekolah hanya akan menjadi sekolah modern dan mahal, tapi proses pembelajarannya tetap kuno…
Terima kasih
SELAMAT BERDJOEANG!
Model Penerapan TIK di Sekolah
Setelah memandu penyusunan action plan penerapan TIK di sekolah baik oleh guru maupun yang terkahir kemarin (di Hotel Griya Astoeti, Bogor) oleh Kepala Sekolah akhirnya diperoleh beberapa kesimpulan sebagai beirkut:
Model penerapan jaringan, mulai dari yang paling minimal sampai dengan yang sudah advance dapat disimpulkan sebagai berikut:
- Model 1: Local Area Network (LAN) dengan memanfaatkan Desktop PC sebagai server. Semua konten pembelajaran disimpan dalam desktop PC tersebut. Ini diperuntukkan bagi sekolah yang memang belum memiliki server khusus.
- Model 2: LAN dengan memanfaatkan server tapi tidak terhubung ke internet. Ini bagi sekolah yang memang telah memiliki server. Semua konten pembelajaran disimpan dalam server tersebut.
- Model 3: LAN + tergabung dalam Wide Area Network (WAN) di sekitar sekolah yang berdekatan. Artinya LAN sekolah terhubung dengan WAN, dimana semua konten bersama disimpan di server WAN.
- Model 4: LAN + WAN + connected to internet
B. Model Penemfatan Fasilitas LCD Projector dan PC/Laptop
- Model 1: Mobile, yaitu pemanfaatan secara bergantian satu atau beberapa LCD Projector + laptop oleh guru ke ruang kelas.
- Model 2: One Class One PC/Laptop One LCD Projector terhubung dengan LAN sekolah.
- Model 3: One Class One PC/Laptop One LCD Projector terhubung ke LAN yang terhubung pula dengan internet.
C. Model Perolehan Konten berbasis TIK
Konten berbasis TIK dapat diperoleh melalui berbagai pendekatan sebagai berikut:
- Model 1: Buatan Guru (Teacher-Made Media)
- Model 2: MULUNG, memanfaatkan yang telah ada dengan cara mengunduh dari internet, diklasifikasi, dikelola dan disimpan dalam server LAN sekolah.
- Model 3: Konten bersama (shared conten), konten buatan guru dan atau hasil MULUNG disimpan dalam suatu portal yang dapat diakses oleh semua guru dan siswa.
- Model 4: Membeli … ini yang paling merepotkan karena mahal, jadi pilihan terakhir kalo ada dananya baik dari dana swadaya, dari block grant, dari donatur dan lain-lain.
D. Model Pembinaan SDM
- Model Informal; model yang paling mujarab. dilakukan dengan cara Getok Tular oleh guru lain yang dah menguasai dan menyediakan fasilitas TIK untuk guru, misal dengan cara One MGMP One PC terhubung ke internet
- Model Formal; melalui pelatihan-pelatihan secara reguler. Sifatnya bisa swadana, disponsori swasta, atau dibiayai pemerintah (kab/kota, propinsi, pusat).
Begitulah kira-kira kesimpulannya, kiranya dapat jadi inspirasi untuk siapapun yang akan merencanakan penerapan ICT di sekolah. Memang yang belum kelihatan muncul dari model di atas adalah model proses pembelajaran berbasis ICT … padahal ini yang lebih penting.
Versi pdf dapat anda donlot disini: kesimpulan action plan sekolah berbasis TIK
Mutiara TP #1: Apakah Belajar itu?

Telling is not teaching
Listening is not learning
Learning is experiencing
Teaching is facilitating learning experiences
Begitulah mutiara kata indah tentang hakekat belajar dan mengajar. Menceritakan atau menjelaskan saja jelas bukan mengajar. Apalagi hanya duduk manis mendengarkan guru menjelaskan, tidak akan terjadi belajar. Sebab belajar terjadi karena proses mengalami (tidak hanya mendengar, tapi melihat, merasakan, melakukan mencoba, memodifikasi, menemukan, mencipta kembali dan seterusnya). Bagaimana dengan KITA? Masihkah berperan seperti teko alias ceret menyirami air? Mudah-mudahan TIDAK!





