Field Test

Uji lapangan adalah evaluasi yang dilakukan terhadap suatu media pembelajaran yang sudah selesai dikembangkan tapi masih membutuhkan atau memungkinkan untuk direvisi akhir. Sama seperti evaluasi kelompok kecil, uji lapangan dilakukan dalam situasi yang senyatanya dengan ketika media pembelajaran tersebut akan digunakan kelak. Uji lapangan dilakukan dengan tujuan untuk mengkonfirmasi akhir, memperoleh pendapat akhir dan menguji keefektifan dan kemampuan untuk diimpelementasikan terhadap media pembelajaran yang sudah dalam tahap akhir pengembangan. Tessmer (1996) mengatakan bahwa uji lapangan dapat dikatakan sebagai uji realitas (reality check), karena memang uji lapangan dilakukan diakhir menjelang suatu produk atau media pembelajaran disebarluaskan atau dipasarkan untuk digunakan oleh penggunanya. Istilah lain dari uji lapangan adalah ?beta test? atau sering disebut juga?field trial?.

Uji lapangan dilakukan ketika media pembelajaran telah selesai direvisi, namun demikian masih memungkinkan untuk direvisi kembali. Selama evaluasi dilakukan evaluator bertindak sebagai pengamat guna menentukan seberapa jauh siswa atau guru telah dapat menggunakan media pembelajaran. Uji lapangan dapat dilakukan dalam satu atau beberapa lokasi (site) dengan karakteristik situasi yang mungkin berbeda secara simultan. Misal, uji lapangan dilakukan di beberapa kelas dari beberapa sekolah atau tempat pelatihan. Semua komponen pembelajaran seperti perlengkapan atau alat, panduan pemanfaatan, materi pembelajaran, panduan belajar dan test disiapkan dengan baik untuk dapat digunakan seperti situasi senyatanya. Seperti halnya denganevaluasi kelompok kecil, unsur lingkungan yang senyatanya (realistis) merupakan aspek penting dalam uji lapangan. Semakin bervariasi situasi di mana pembelajaran akan digunakan, semakin bervariasi pula media pembelajaran tersebut harus diujicobakan.

Salah satu kelebihan umum dari uji lapangan adalah bahwa dengan evaluasi tersebut akan diperoleh informasi apakah pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran tersebut akan benar-benar berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan dalam lingkungan belajarnya. Evaluator dapat melakukan ?cek realitas? dengan melakukan observasi dan mencatat atau merekam permasalahan yang timbul pada saat implementasinya.

Pertanyaan penting selanjutnya adalah informasi apa saja yang perlu digali dalam uji lapangan? Sebenarnya, dalam uji lapangan, fokus penggalian informasi lebih banyak menekankan pada masalah implementasi. Menurut Tessmer (1996) ada beberapa fokus pertanyaan yang perlu dijadikan patokan dalam uji lapangan, diantaranya adalah sebagai berikut:

Kemampuan untuk dapat dilaksanakan (Implementability); seperti dapatkah media pembelajaran tersebut digunakan sesuai dengan apa yang diharapkan? Apakah penggunaanya memerlukan pelatihan khusus? Apakah diperlukan perangkat pendukung lain? Kendala apa saja yang dihadapi pengguna dalam menggunakan media pembelajaran tersebut?
Kesinambungan (Sustainability); seperti faktor-faktor apa saja yang memungkinkan media pembelajaran tidak digunakan atau sebaliknya oleh pengguna (guru/siswa)? Akankah materi (content) suatu ketika nanti akan kedaluarsa (out of date)? Apakah media pembelajaran tersebut memungkinkan diadaptasi atau disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan oleh pengguna, khususnya guru/widyaiswara? Apakah tidak ada masalah berkaitan dengan pemeliharaan dan perawatan (maintenance)? Apakah teknologi pendukung, dalam periode waktu yang relatif pendek kedepan akan kedaluarsa? Dan lain-lain.
Efektifitas; masalah efektifitas dan efisiensi masih penting dalam evaluasi formatif. Seperti apakah dengan media pembelajaran tersebut yang digunakan dalam situasi senyatanya dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik? Apakah revisi yang telah dilakukan sebelumnya dapat meningkatkan pencapaian terhadap tujuan pembelajaran yang diharapkan? Apakah siswa (peserta pelatihan) dapat mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan setelah belajar dengan memanfaatkan media pembelajaran tersebut? Dan lain-lain.
Kecocoka dengan lingkungan (appropriateness); seperti apakah media pembelajaran tersebut dapat digunakan dalam beberapa variasi lingkungan seperti di rumah, di dalam kelas, untuk belajar sendiri, untuk belajar klasikal, dan lain-lain? Apakah faktor yang mendukung dan menghambat ketika digunakan dalam berbagai variasi lingkungan yang berbeda-beda tersebut? Apakah media pembelajaran tersebut dapat digunakan dengan kondisi fasilitas yang paling minimal? Dan lain-lain.
Penerimaan dan kemenarikan (acceptance & attractiveness); seperti pada bagian-bagian manakah yang membosankan atau sebaliknya? Hal-hal apa saja yang menyebabkan media pembelajaran tersebut membosankan atau sebaliknya? Apakah pengguna (guru, siswa, widyaiswara) menunjukkan kepuasan terhadap media pembelajaran tersebut? Apakah pengguna menyatakan bahwa media pembelajaran tersebut dapat memenuhi atau sesuai dengan kebutuhan mereka?

Inilah bentuk-bentuk evaluasi formatif yang disarankan Martin Tessmer (1996). Idealnya kelima bentuk evaluasi formatif tersebut dilaksanakan untuk memastikan bahwa media pembelajaran yang kita kembangkan benar-benar berkualitas.

 Viewed 1539 times by 478 viewers


Tagged as: , , , , , ,