Small Group Evaluation

Evaluasi kelompok kecil adalah evaluasi yang dilakukan terhadap sekelompok siswa yang mengevaluasi media pembelajaran yang belum selesai. Evaluasi kelompok kecil merupakan salah satu bentuk evaluasi formatif yang paling populer dan biasanya dilakukan setelah review ahli dan evaluasi satu-satu. Evaluasi ini bertujuan untuk menghasilkan saran revisi lebih lanjut. Penggunaan kelompok kecil siswa membedakan ciri evaluasi kelompok kecil evaluasi satu-satu, dimana keduanya menggunakan siswa sebagai sumber data utama. Berbeda dengan evaluasi satu-satu, evaluasi kelompok kecil berfokus pada data-data tentang performa siswa guna menegaskan revisi sebelumnya serta menghasilkan rekomendasi revisi yang baru sebelum uji lapangan.

Dalam evaluasi kelompok kecil, guru atau widyaiswara memberikan pembelajaran sebagaimana mestinya kepada sekelompok kecil siswa. Pemebelajaran diberikan dalam suatu lingkungan yang sama dimana pembelajaran tersebut akan digunakan dalam ?situasi nyatanya? atau dalam kondisi yang sebenarnya. Dalam evaluasi kelompok kecil, evaluator akan mencatat bagaimana siswa dan instruktur melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan media yang sedang kita kembangkan. Siswa sebagai bagian dari evaluasi, diberikan tes entry, pre-test, post test, atau kuesioner. Di akhir pembelajaran dan periode pengetesan, evaluator menguji ketegasan reaksi siswa terhadap pembelajaran (debriefing) dalam bentuk wawancara terbuka.

Evaluasi kelompok kecil idealnya dilakukan setelah review ahli dan evaluasi satu-satu. Namun demikian, seperti yang dikutip Watson (1986) bahwa evaluasi kelompok kecil kadang-kadang dapat dilakukan tanpa terlebih dahulu melakukan evaluasi lain. Dalam hal ini, evaluasi digunakan untuk mengidentifikasi masalah utama mengenai kejelasan dan efektifitas pembelajaran.
Salah satu kelebihan evaluasi kelompok kecil adalah bahwa evaluasi tersebut memberikan pengukuran kinerja siswa secara lebih akurat. Proses belajar daam evaluasi ini jika dibandingkan dengan evaluasi satu-satu akan lebih mirip dengan situasi belajar sebenarnya. Hal ini dikarenakan evaluator dapat melakukan interaksi langsung dengan siwa ketika belajar dalam kondisi yang mendekati sebenarnya. Di samping itu, evaluasi kelompok kecil lebih mudah dilakukan jika dibandingkan dengan evaluasi satu-satu. Kelemahan evaluasi kelompok kecil adalah bahwa evaluasi ini tidak mempunyai level interaksi personal seperti yang terjadi dalam evaluasi satu-satu. Sehingga konsekuensi dari evaluasi ini, tidak memberikan informasi intrinsik yang mencukupi.

Kelemahan lain adalah biaya dan waktu yang mahal seandainya siswa atau guru/widyaisawara harus dibayar atau didatangkan dari tempat yang jauh. Namun demikian, meskipun gratis (tanpa biaya besar) jika terdapat banyak jumlah tes dan penegasan (debriefing), serta banyaknya informasi yang ingin diperoleh, maka evaluasi ini tetap memiliki potensi menghabiskan waktu yang relatif banyak atau lama.

Perlu juga dicatat bahwa evaluasi kelompok kecil bukan merupakan pengganti dari review ahli. Informasi yang diperoleh dari evaluasi kelompok kecil benar-benar berasal dari sudut pandang siswa. Oleh karena itu, aspek materi, desain pembelajaran dan kulaitas teknis dan lain-lain harus mendapat masukan dari ahli, khususnya sebelum evaluasi kelompok kecil dilakukan.
Fokus pertanyaan untuk evaluasi kelompok kecil secara umum meliputi aspek seperti:

Efektifitas dan efisiensi; seberapa besar siswa yang lulus post tes dibandingkan dengan pr-test? Dapatkah siswa menyelesaikan pembelajaran dengan waktu yang secara rasional cukup efisien? Bagian mana saja yang memberikan potensi ketidak berhasilan siswa, dan lain-lain.
Aspek implementasi; dapatkah guru dan siswa menggunakannya dengan mudah? Apakah ada potensi guru dan siswa tidak memanfaatkannya diwaktu yang akan datang? Hal-hal apa saja yang memungkinkan guru dan siswa tidak mau menggunakan atau sebaliknya? Dan lain-lain
Aspek materi; memastikan apakah materi menarik, tidak terlalu dalam atau sebaliknya tidak terlalu rendah, dan lain-lain.
Asek desain pembelajaran; apakah startegi atau pendekatan yang digunakan tidak menarik? Unsur-unsur apa saja yang membuat guru dan atau siswa tidak tertarik atau sebaliknya? Dan lain-lain.

Selanjutnya, karakteristik siswa seperti apa yang harus dipilih sebagai subyek? Menurut Tessmer (1996), sebagai patokan, karakteristik siswa yang dapat dijadikan sebagai subyek evaluasi daat dilihat dari kiriteria sebagai berikut:

Kemampuan siswa; meliputi keterampilan dan tingkat intelektual yang dapat menjadi sarana mereka untuk belajar pada situasi yang berbeda, atau dengan beberapa tingkat kesulitan berbeda;
Pengetahuan siswa; meliputi seberapa banyak keterampilan awal yang dimiliki mereka dan seberapa banyak target keterampilan yang belum mereka miliki;
Motivasi belajar; meliputi seberapa besar tingkat ketrtertarikan siswa terhadap topik tersebut;
Motivasi untuk melakukan evaluasi; yaitu seberapa seriuskah kemungkinan mereka dalam melakukan evaluasi:
Literasi tekhnologi; keterampilan dalam menggunakan perlengkapan dan software dari media pembelajaran tersebut;
Faktor bahasa dan budaya; latar bekang suku, gender, kemampuan bahasa, nilai.

Referensi:
Martin Tessmer (1996), “Planning and Conducting Formative Evaluation”

 Viewed 1587 times by 474 viewers


Tagged as: , , , , , , ,